
Restoran sibuk jarang kekurangan resep. Yang pecah adalah tempo: tiket numpuk, station tidak seimbang, tamu menunggu tanpa tahu status. Manajer baru sadar setelah rating turun.
Computer vision di dapur bukan soal kamera pengintai. Ia membaca sinyal visual yang sudah ada: tiket, window expo, piring yang lama diam. Kombinasikan dengan data order dari POS, lalu tampilkan bottleneck ke KDS sebelum antrian pecah di lantai.
Yang realistis untuk F&B Indonesia adalah deteksi sederhana dulu: waktu tiket, item yang sering terlewat, dan station mana yang jadi antrian. Jangan mulai dari pengenalan wajah staf.
Mulai Smart Restaurant sudah mengikat order, dapur, dan inventori. Vision layer hanya masuk akal setelah alur itu stabil. Kalau tiket masih kertas dan stok masih kira-kira, pasang kamera hanya menambah noise.